Wednesday, February 27, 2013

PERILAKU JAHILIYAH: 11 Menilai Sesuatu Itu Batil Karena Pengikutnya Kaum Dhuafa’


Menilai bahwa sesuatu itu batil dengan dalil bahwa sesuatu itu diambil (diterima dan diikuti) oleh kaum dhuafa’ (lemah) dan bahwa pemahaman mereka itu dangkal. Hal ini ditunjukkan oleh kaum Nabi Nuh kepada beliau sebagaimana yang telah dikisahkan dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman dalam surat Asy-Syu’ara’:


{ كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ ٱلْمُرْسَلِينَ (105) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ نُوحٌ أَلَا تَتَّقُونَ (106) إِنِّى لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌۭ (107) فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ  (108) وَمَآ أَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِىَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ (109) فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ (110) ۞ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلْأَرْذَلُونَ (111) قَالَ وَمَا عِلْمِى بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ (112) إِنْ حِسَابُهُمْ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّى ۖ لَوْ تَشْعُرُونَ (113) وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلْمُؤْمِنِينَ (114) إِنْ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٌۭ مُّبِينٌۭ (115)}

“Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku". Mereka berkata: "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Nuh menjawab: "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Aku (ini) tidak lain melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan".” (Q.S. Asy-Syuara: 105-115)

Coba perhatikan kaum Nabi Nuh, mereka menolak untuk mengikuti Nabi mereka lantaran para penghuninya adalah kaum dhuafa’. Hal ini disebabkan orientasi mereka hanyalah dunia (materi) semata. Sebab jika Akhirat yang menjadi visi mereka, tentu mereka telah mengikuti kebenaran di mana pun mereka mendapatkannya. Akan tetapi karena kejahiliyyahan mereka, mereka pun berpaling dari kebenaran demi memperturutkan kepentingan nafsu mereka.


Lihatlah Heraclius. Tatkala dia memiliki akal dan pandangan yang tajam, ia meyakini bahwa penerimaan kaum dhuafa’ adalah bukti bagi kebenaran. Maka dia berkata dalam sejumlah pertanyaan yang dia ajukan kepada Abu Sufyan tentang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Aku bertanya padamu tentang apakah orang-orang terpandang yang mengikutinya ataukah kaum dhuafa’? Lalu, engaku menjelaskan bahwa kaum dhuafa’-lah yang mengikutinya, dan mereka adalah para pengikut Rasul.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhary dalam sebuah hadits yang panjang dalam kitab Permulaan Wahyu.

Semisal dengan ini adalah firman Allah dalam Surat Hud:

{وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِۦٓ إِنِّى لَكُمْ نَذِيرٌۭ مُّبِينٌ (25) أَن لَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّا ٱللَّهَ ۖ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍۢ (26) فَقَالَ ٱلْمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن قَوْمِهِۦ مَا نَرَىٰكَ إِلَّا بَشَرًۭا مِّثْلَنَا وَمَا نَرَىٰكَ ٱتَّبَعَكَ إِلَّا ٱلَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِىَ ٱلرَّأْىِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍۭ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَٰذِبِينَ(27)}

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan".Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta".” (Q.S. Hud: 25-27)





Sumber: Syarh Masaail Al-Jahiliyyah, Mahmud Syukry Al-Alusy
Penerjemah: Agus Hasan Bashory
Diketik ulang dari buku ‘Mewaspadai 100 Perilaku Jahiliyah’


No comments:

Post a Comment