Sunday, February 17, 2013

Kesempurnaan Ibadah (Penghambaan)


Seorang hamba akan berbolak-balik dalam 3 keadaan:

a. Ketika mendapatkan nikmat dan karunia dari Allah Ta’ala, maka dia wajib memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.

b. Ketika melakukan perbuatan maksiat dan dosa, maka dia wajib memohon ampunan kepada Allah Ta’ala.

c. Ketika tertimpa bencana, maka dia wajib sabar.

Barangsiapa yang dapat melaksanakan kewajiban dalam tiga keadaan ini, ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Allah Ta’ala menimpakan bencana kepada hamba-Nya untuk menguji tingkat kesabaran dan kekuatan ibadahnya, bukan untuk membinasakan atau menyiksanya. Sehingga Allah mempunyai hak yang sama atas ibadah hamba-Nya baik dalam keadaan susat (berat) maupun dalam keadaan lapang, baik atas perkara yang dibenci maupun perkara yang disukai. Namun kebanyakan umat manusia beribadah pada hal-hal yang mereka sukai saja. Adapun dalam keadaan yang dibenci, mereka punya sikap yang berbeda. Berwudhu dengan air yang dingin pada waktu cuaca panas adalah ibadah, menikah dengan perempuan yang baik adalah ibadah, berwudhu dengan air yang dingin pada saat cuaca dingin adalah ibadah, meninggalkan maksiat dan hawa nafsu tanpa adanya rasa takut kepada manusia adalah ibadah, dan sabar dalam menahan rasa lapar dan rasa sakit adalah ibadah, akan tetapi ada perbedaan antara dua keadaan ibadah ini.

Barangsiapa dapat beristiqamah dalam beribadah kepada Allah pada dua keadaan tersebut, yaitu dalam keadaan yang dibenci dan disukai, maka ia tergolong hamba Allah yang tidak pernah merasa takut dan bersedih. Tidak ada jalan bagi musuh untuk mencelakainya karena Allah selalu menjaganya. Namun terkadang setan mampu menggelincirkannya. Seorang hamba terkadang diuji dengan kelupaan, syahwat dan kemarahan, sedang stan selalu datang kepada hamba lewat ketiga pintu ini. Allah telah memberikan kekuasaan bagi hamba-Nya, berkenaan dengan hawa nafsu, setan dan ujian yang ditimpakan kepadanya, apakah ia menaati hal-hal tersebut atau menaati Rabbnya.


Allah mensyariatkan perintah-perintah kepada umat manusia, sebagaimana hawa nafsu juga memberikan perintah padanya. Allah menghendaki kesempurnaan iman dan amal saleh, sedang nafsu menginginkan penguasaan harta dan pemuasan syahwat. Allah menghendaki agar kita beramal untuk akhirat, sedang nafsu menghendaki agar kita beramal untuk dunia. Keimanan merupakan jalan kesuksesan dan pelita yang menyinari kebenaran, di sinilah sebenarnya medan ujian.

Berkenaan dengan hal ini, Allah Ta’ala telah menjelaskan dalam firman-Nya:

{أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ (3)}

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Q.S. Al-Ankabut: 2-3)

{۞ وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ}

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Yusuf 53)

{فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا۟ لَكَ فَٱعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَآءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ ٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ بِغَيْرِ هُدًۭى مِّنَ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ}

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (Q.S. Al-Qashash: 50)



Sumber: Mukhtashar Al-Fiqh Al-Islaamy, Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiry
Ensiklopedi Islam Al-Kamil, Pustaka Darus Sunnah

No comments:

Post a Comment