Friday, March 8, 2013

SAKARATUL MAUT




Sudah tiba saatnya orang tidur harus bangun. Sudah tiba waktunya orang lalai harus sadar sebelum kematian menjelang dengan membawa minuman yang getir, sebelum semua gerakan ini terhenti, sebelum nafas tak lagi berhembus, sebelum dibawa dan berada di dalam kubur.

Imam Al-Qurthuby rahimahullah menjelaskan, Allah Ta’ala menggambarkan beratnya kematian di empat ayat sebagai berikut:

Pertama
{وَجَآءَتْ سَكْرَةُ ٱلْمَوْتِ بِٱلْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ}

“Dan datanglah sakaratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (Q.S. Qaf: 19)

Kedua

{وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِى غَمَرَٰتِ ٱلْمَوْتِ}

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut” (Q.S. Al-An’am: 93)

Ketiga

{ فَلَوْلَآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلْحُلْقُومَ}

“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,” (Q.S. Al-Waqi’ah: 83)

Keempat

{كَلَّآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلتَّرَاقِىَ}

“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan,” (Q.S. Al-Qiyamah: 26)


Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha: Di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terdapat timba atau ember. Beliau memasukkan kedua tangan ke dalam air lalu beliau usapkan ke wajah, beliau mengucapkan:




لَا إِلَهَ إِلَّا الله إِنَّ لِلمَوتِ  سَكَرَاتٍ ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ فِي الرَّفِيقِ الأَعلَى حَتَّى قُبِضَ وَمَالَت يَدُهُ

“La ilaha illallah, sungguh kematian itu ada sekaratnya.” Beliau menegadahkan tangan lalu berdoa: Bersama golongan para nabi. Hingga beliau wafat kemudian tangan beliau jatuh.”[1]

Imam Al-Qurthuby rahimahullah menyampaikan, bahwa ulama menjelaskan, kematian akan menimpa para nabi, rasul, golongan pertama dan orang-orang bertakwa, lantas kenapa kita sibuk untuk membicarakannya, kenapa kita berselisih pendapat untuk mempersiapkan diri menghadapinya?!

{قُلْ هُوَ نَبَؤٌا۟ عَظِيمٌ (67) أَنتُمْ عَنْهُ مُعْرِضُونَ (68)}

“Katakanlah: "Berita itu adalah berita yang besar, yang kamu berpaling daripadanya.” (Q.S. Shad: 67-68)

Beratnya kematian dan sakaratul maut yang dialami para nabi memiliki dua manfaat:

Pertama: agar manusia tahu seperti apa derita saat menghadapi kematian, dan beban berat kematian itu tidak terlihat. Kadang orang menyaksikan orang mati tanpa melihat gerakan ataupun kesedihan si mayit, yang ia lihat hanyalah ruh keluar dari jasad dengan mudahnya, sehingga yang bersangkutan mengira kematian itu mudah padahal ia tidak tahu sebenarnya apa yang dialami si mayit.

Karena para nabi yang benar imannya telah mengabarkan berita tentang beban berat sakitnya kematian yang mereka alami, padahal mereka adalah orang-orang mulia di mata Allah meski ada sebagian nabi yang wafat dengan mudah, seluruh manusia pun meyakini kematian yang dirasakan dan dialami oleh si mayit sangat berat berdasarkan berita yang mereka sampaikan.

Kedua: mungkin ada sebagian orang berfikir, mereka adalah orang-orang tercinta (para nabi dan rasul Allah), lalu kenapa mereka juga mengalami beban berat yang begitu besar, Allah kuasa untuk meringankan kematian mereka. Jawabannya karena manusia yang paling berat cobaannya di dunia adalah para nabi, selanjutnya orang-orang semisal mereka, lalu orang-orang yang mengikuti mereka.[2]
Allah Ta’ala ingin menguji mereka untuk menyempurnakan kemuliaan mereka di sisi-Nya, meninggikan derajat mereka di dekat-Nya. Beratnya kematian yang dialami para nabi dan rasul bukan sebagai kekurangan ataupun siksa, namun seperti yang Allah telah sampaikan, hal itu untuk mengangkat kemuliaan mereka setinggi-tingginya, dan mereka ridha atas takdir yang diberlakukan terhadap mereka. Karena itulah Allah ingin menutup usia mereka dengan beban berat seperti itu meski Allah bisa meringankan beban itu untuk mengangkat derajat mereka dan memperbesar pahala mereka sebelum wafat, seperti halnya Nabi Ibrahim alaihissalam diuji dengan kobaran api, Nabi Musa alaihissalam diuji dengan rasa takut dan kitab Taurat, Nabi Isa alaihissalam diuji dengan tanah gersang dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang diuji dengan kemiskinan di dunia serta peperangan yang beliau lancarkan terhadap orang-orang kafir. Itu semua berfungsi untuk meningkatkan kondisi dan menyempurnakan derajat mereka.

Pertanyaan: Apakah semua makhluk merasakan sakaratul maut?

Jawaban: Sebagian ulama memberi penjelasan, berdasarkan dalil yang shahih, kematian terasa sangat getir, semua makhluk merasakannya, hanya saja dalam hal ini ada dua golongan dan dua perkiraan.

Hanya Allah semata yang kekal abadi selamanya dan Allah memberlakukan ketetapan semua makhluk binasa dan fana, ini menunjukkan bahwa Allah berbeda dengan semua makhluk. Allah membedakan semua benda nyata berdasarkan perbedaan tingkat dan derajat; ada alam hewan, ada alam manusia, ada pula alam non manusia, kemudian di atasnya ada alam ruhani, dan golongan atas, mereka semua merasakan sakaratul maut. Allah Ta’ala berfirman:

{كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ }

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Q.S. Ali Imran: 185)

Imam Al-Qurthuby rahimahullah menjelaskan, bila penjelasan di atas sudah jelas, selanjutnya perlu diketahui kematian merupakan sesuatu yang sangat mengerikan. Kematian merusak dan memutuskan semua kenikmatan, memutuskan semua kesenangan, mendatangkan berbagai hal yang tak disukai, memutuskan dan menceraiberaikan seluruh anggota badan, dan merusak semua persendian. Kematian benar-benar hal besar, dan hari terjadinya kematian merupakan hari besar.[3]

Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wa sallam mewasiatkan ketika menghadapi sakaratul maut melalui sabdanya:

مَن كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَه إِلَّا الله دَخَلَ الجَنَّة

“Barangsiapa perkataan terakhirnya ‘La ilaaha illallaah’, ia masuk surga.” [4]

Hendaklah orang yang tengah sekarat mewaspadai dorongan setan karena setan menghampiri orang yang sekarat untuk merusak akidahnya. Ketika orang yang sekaran ditalqin dan mengucapkannya satu kali, setelah itu tidak perlu diulangi lagi agar tidak ada gelisah padanya.

Ahlul ilmi memakruhkan memperbanyak dan mendesakkan talqin pada orang yang tengah sekarat bila yang bersangkutan telah memahaminya. Ibnul Mubarak rahimahullah berkata, “Talqinkan la ilaaha illallaah pada orang yang sekarat. Bila sudah diucapkan, biarkan!”

Abu Muhammad Abdul Haq rahimahullah menjelaskan, bahwa dikhawatirkan bila talqin disampaikan secara terus menerus dan dipaksakan akan menimbulkan kegelisahan pada orang yang sekarat dan diperberat oleh setan, sehingga akan menjadi penyebab su’ul khatimah. Perintah Ibnu Mubarak harus dilaksanakan.[5]

Sumber: Serial Ke-1 (Trilogi Alam Akhirat), Misteri Kematian
Oleh Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli
Cetakan Darul Ilmi




[1] H.R. At-Tirmidzy, no. 2338, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany
[2] Riwayat At-Tirmidzy, no. 2338, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany.
[3] At-Tadzkirah, hal. 23, 25
[4] H.R. Abu Daud, no. 3116

No comments:

Post a Comment