Saturday, March 9, 2013

Keutamaan Ilmu Tentang Nama dan Sifat Allah


Sesungguhnya ilmu tentang nama dan sifat Allah merupakan ilmu yang diberkahi, memiliki banyak pelajaran berharga, dan manfaat yang banyak, bermacam-macam buah dan pengaruhnya. Tampak jelas keutamaan ilmu ini dan keagungan manfaatnya dari banyak sisi:

Pertama: Sesungguhnya ilmu ini adalah semulia-mulia ilmu, seutama-utamanya, dan setinggi-tingginya kedudukan. Keutamaan suatu ilmu dilihat dari sisi kandungan ilmu tersebut. Tidak ada ilmu yang lebih mulia dan lebih utama daripada ilmu tentang nama dan sifat-Nya yang tercantum dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, menyibukkan diri dengan ilmu ini dan memahaminya merupakan suatu kesibukan terhadap hal yang mulia.


Kedua: Mengenal Allah dan memahami ilmu ini mengantarkan seorang hamba untuk mencintai-Nya, mengagungkan, dan memuliakan-Nya, selalu takut dan berharap kepada-Nya, serta mengikhlaskan amal perbuatan untuk-Nya. Ketika pengenalan hamba terhadap Allah sudah menguat, maka sungguh besar pengagungannya terhadap Allah, ketundukannya kepada syariat-Nya, serta konsistennya untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Ketiga: Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan mencintai pengaruhnya dalam diri makhluk-Nya. Ini merupakan bagian dari kesempurnaan-Nya. Dia witir (Maha Ganjil) yang mencintai sesuatu yang witir. Dia Maha Indah yang menyukai keindahan. Dia Maha Alim (Mengetahui) yang mencintai para ulama. Dia Maha Dermawan yang mencintai kedermawanan. Dia Maha Kuat yang lebih mencintai orang mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah. Dia Maha Pemalu yang mencintai orang yang memiliki rasa malu. Dia Maha Adil yang cinta kepada keadilan. Dia membalas hamba-Nya sesuai dengan sifat-sifat-Nya, dan pembahasan ini amat luas yang menunjukkan akan kemuliaan dan keutamaan ilmu ini.

Keempat: Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk-Nya dari ketiadaan dan menundukkan bagi mereka apa yang ada di langit dan di bumi agar mereka mengenal dan menyembah-Nya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

{ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍۢ وَمِنَ ٱلْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ ٱلْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا}

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Q.S. Ath-Thalaq: 12)

{وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍۢ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ (58)}

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Q.S. Adz-Dzariyat: 56-58)

Kesibukan hamba mengenal nama Allah dan sifat-Nya adalah kesibukan yang berkaitan dengan tujuan penciptaannya. Meninggalkan dan menyia-nyiakan hal ini merupakan bentuk penyia-nyiaan terhadap tujuan diciptakannya. Tidak selayaknya bagi seorang hamba yang telah banyak Allah karuniai nikmat dan keutamaan-Nya untuk dia jahil terhadap Rabbnya dan berpaling dari mengenal-Nya.

Kelima: Salah satu rukun iman yang enam dan yang paling mulia, utama, serta yang merupakan fondasinya adalah iman kepada Allah. Iman bukan hanya sekadar ucapan seorang hamba, “Aku beriman kepada Allah”, tanpa didasari oleh pengenalan terhadap-Nya, bahkan hakikat iman kepada Allah adalah seorang hamba mengenal Rabb yang dia imani dan dia berusaha sekuat tenaga untuk mengetahui nama dan sifat-Nya hingga dia sampai kepada derajat keyakinan. Sesuai dengan kadar pengenalan seorang hamba terhadap Rabbnya, maka itulah kadar imannya.

Allah berfirman:

{وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ}

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Al-Hasyr: 19)

Keenam: Ilmu tentang Allah Ta’ala  merupakan fondasi segala hal. Sampai-sampai seorang yang berilmu tentangnya, dia selalu berdalil dengan sifat-sifat dan perbuatan-Nya akan apa yang Allah takdirkan dan apa yang Allah syariatkan dari hukum-hukum yang ada, karena Allah  Ta’ala tidak berbuat, kecuali sesuai dengan ketentuan nama dan sifat-Nya. Perbuatan-perbuatan-Nya berkisar antara keadilan dan keutamaan serta hikmah. Oleh karena itu, Dia tidak mensyariatkan hukum, melainkan sesuai dengan ketentuan kebaikan, hikmah, keutamaan, maupun keadilan-Nya.

Ketujuh: Mengenal Allah, nama-nama, sifat-sifat-Nya merupakan perniagaan yang menguntungkan. Di antara keuntungannya adalah ketenangan jiwa, ketentraman hati, dan lapang dada, tinggal di surga Firdaus pada hari kiamat, melihat ke wajah Allah yang mulia, meraih ridha-Nya, serta selamat dari kemurkaan dan azab-Nya. Jika hati telah tenang kepada keyakinan bahwa Allah adalah Rabbnya dan sesembahannya dan bahwasanya tempat kembalinya kepada-Nya, maka dia akan benar-benar dalam beribadah kepada-Nya, antusias dan bersungguh-sungguh dalam menggapai kecintaan-Nya, mengharap kepada-Nya dan beramal untuk mencari ridha-Nya.

Kedelapan: Sesungguhnya ilmu tentang nama dan sifat Allah merupakan benteng dari keguncangan, perisai dari ketergelinciran , pembuka pintu harapan, pembantu dalam kesabaran, menjauhkan dari rasa malas, pendorong dalam ketaatan dan pendekatan, pengingat dari maksiat dan dosa, hiburan ketika musibah dan malapetaka, senjata sakti dari godaan setan, penyebab datangnya kecintaan dan kasih sayang, pemotivasi dalam kedermawanan, kebaikan dan kebajikan, dan masih banyak lagi buah dari ilmu ini.

Inilah sekelumit penjelasan yang menunjukkan keutamaan ilmu tentang nama dan sifat Allah serta kebutuhan yang mendesak kepadanya. Bahkan tidak ada kebutuhan yang melebihi kebutuhan hamba terhadap pengenalan kepada Rabb, pencipta, raja dan pengatur semua perkara dan rezeki mereka. Seorang hamba tidak terlepas dari pertolongan Allah meski sekejap mata, dan tidak ada kebahagiaan serta kesucian, melainkan dengan mengenal serta beribadah dan beriman kepada-Nya. Oleh karena itu, seorang hamba akan mendapatkan bagian kebahagiaannya dan memperoleh sanjungan serta pujian sesuai dengan kadar pengenalannya terhadap Rabbnya dan amal ibadahnya yang dapat mendatangkan keridhaan dan kedekatan kepada Rabbnya dari ucapan yang benar dan amal yang baik.



Sumber: Fikih Asma’ul Husna, oleh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr, Pustaka Darus Sunnah





 Berminat pada buku ini?

Lihat Deskripsi buku ini dan pesan di: http://pustakailmu.com/buku-fikih-asmaul-husna#.UTu-MqKxWGM

No comments:

Post a Comment